Gadis Umbrella
Langit mulai bergemuruh lagi di penghujung November tahun ini. Gerombolan orang-orang berbusana hitam masih setia membentuk lingkaran mengelilingi calon peristirahatan terakhir Bunda. Aku masih tak bergerak dalam dekapan Kak Arial, membatu dan kaku dalam pelukannya. Tak lama, kusaksikan jasad Bunda telah bersiap untuk diturunkan ke liang lahat, aku meronta! Kurasakan badan Kak Arial juga bergetar, rambutku kemudian terasa basah namun bukan karena hujan. Ya, hujan belum turun, itu air mata Kak Arial, lelaki kesayanganku nomor dua di dunia ini. Aku makin tak kuasa. Disampingku kulihat Ayah juga tersungkur kaku menyaksikan ritual terakhir Bunda. Tiba-tiba seorang anak kecil berlari dari kejauhan sembari menangis dan berteriak memanggil nama Bunda, dia adikku Afrian. Afrian meraung-raung tak terima jasad Bunda ditimbun oleh tanah, tak terima Bunda ditinggal sendiri dalam tanah. Suara tangisan makin terpecah, bukan hanya Aku, Ayah dan Kak Arial, namun semua orang yang ada disana dan menyaks...